Review Film Buya Hamka Rating (9/10)

 



Buya Hamka merupakan sosok penting dalam sejarah sastra Indonesia. Beliau adalah penulis karya fenomenal yang berjudul Tenggelamnya Kapal Vander Wijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Falcon sukses melahirkan karya yang penuh emosional  dan menyentuh di hati, di sutradarai oleh Fajar Bustomi dengan banyak pemain film kenamaan yang berhasil membawakan  peran dengan sangat baik seperti Vino G Bastian, Laudya Chyntia Bella, Desi Ratnasari, Anjasmara dan Lain-lain.

Dalam Film Buya Hamka vol.1 ini, cerita yang ditampilkan adalah kisah perjuangan Hamka setelah menikah. Banyak sekali pergolakan terjadi, diantaranya Hamka dituduh sebagai pengkhianat organisasi Muhammadiyah karena berdekatan dengan Jepa. Banyak sekali scene yang memperlihatkan betapa santunnya hamka dalam menghargai dan mencintai istri dan anaknya. Tak kalah penting ialah bagaimana Raham mampu mengalahkan ego, menghormati, melayani suaminya dengan sabar. Adegan menyentuh selanjutnya adalah ketika shalat di rumah, Raham dan Hamka harus bergantian. Tidak bisa shalat berjama'ah karena sejadah yang dimiliki hanya satu.

Pelajaran yang dapat diambil :

1. Dari sosok Buya Hamka kita dapat belajar tentang integritas, cinta tanah air, tauhid (agama) diatas segalanya, dan mendahulukan kepentingan banyak orang. Walaupun terlihat serius, dibeberapa adegan Hamka terlihat humoris, bisa mencairkan suasana dan pandai memuji istrinya. Sehingga masalah apapun yang dihadapi terasa ringan. 

2. Raham adalah sosok istri yang bersahaja, ibu yang baik, tabah, setia dan sabar dalam mendampingi suami dan anak-anaknya. Adegan paling mengharukan adalah ketika Raham mendukung suaminya untuk pergi ke Medan, dan karena itu mengharuskan mereka hidup berjauhan selama beberapa lama. Bahkan Raham tidak marah ketika anaknya meninggal dan Hamka tidak bisa pulang karena deadline majalah yang harus naik cetak.

3. Dua quotes yang paling saya sukai dari Hamka 

- “ Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup, ialah  membiarkan pemikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang  malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah”

- “ Ketika berhasil, ingat jangan lalai perjuangan belum selesai! "

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan

sekolah impian

Book Review : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat